SIAPAKAH yang lebih besar antara seorang mentri yang mengurus lingkungan atau seorang ketua RT yang mengurus kebersihan perumahan warganya. Tentulah jawabannya sang mentri. Karena sang mentri memiliki jabatan yang tinggi, ia punya kekuasaan yang lebih tinggi, fasilitas yang lebih banyak dan tentunya anak buah yang lebih banyak pula.
Walaupun seorang ketua RT mengurus tentang kebersihan perumahan warganya, ia jelas berbeda dengan seorang mentri. Biarpun keduanya sama-sama mengurus lingkungan, namun seorang ketua RT bukanlah siapa-siapa bila disandingkan dalam ranah kekuasaan seorang mentri.
Seorang mentri yang mengurus lingkungan memiliki ranah kekuasaan yang lebih besar. Dengan kekuasaan itu, ia bisa memberikan banyak kebaikan bagi banyak orang. Jangankan untuk satu RT, ia bisa menyemaikan kententraman dan kesejahteraan untuk banyak RT, bahkan semua RT di sebuah negara.
Begitulah jamaknya orang memandang tentang kekuasaan, jabatan dan pangkat. Semakin tinggi, semakin prestisius, semakin diperebutkan banyak orang. Semakin orang berlomba-lomba mendapatkannya, memperebutkannya dengan berbagai macam cara.
Jabatan dan kekuasaan kemudian menjadi standar nilai secara sosio-kultural dalam memandang eksistensi manusia di tengah komunitasnya. Semakin tinggi jabatannya, maka makin dipandang ia. Makin dihargai ia, makin dihormati ia, semakin disanjung-puja ia.
Tahta itu menjadi ukuran dalam menilai keberhasilan manusia di permukaan dunia. Makin tinggi jabatannya, maka makin sukses hidupnya. Ketika hilang tahtanya, maka makin tidak berharga hidupnya. Maka, orang suka menulis dan menyebutkan banyakl jabatan dalam biodata pribadinya. Makin banyak jabatan, maka makin lebih baik ia di mata orang-orang.
Terkadang kekuasaan itu tak selalu berbanding lurus dengan tugas-tugas besar. Kekuasaan seorang ketua RT bisa jadi akan menempatkannya dengan tugas-tugas yang kecil. Kekuasaan seorang mentri, bisa jadi akan menempatkannya dengan tugas-tugas besar. Namun, seorang ketua RT yang mengurus kebersihan lingkungan warganya bukan berarti ia tidak bisa menunaikan sebuah tugas besar. Ia akan menjadi tugas besar dan menempatkannya menjadi orang besar, ketika tugas kecil itu dilaksanakan dengan kebesaran hati. Seorang mentri yang mengurus lingkungan, bisa jadi hanya melaksanakan sebuah tugas kecil kalau kenyataannya dari kekuasaan yang dikendalikannya hanya banyak kerusakan lingkungan yang disebabkannya.
Banyak orang berlomba-lomba mengejar kekuasaan, namun banyak yang lupa untuk menjadi orang-orang besar. Untuk menjadi orang besar itu tak perlu melakukan sebuah pekerjaan yang besar, namun itu tak mudah. A.R. Rizal
Kamis, Oktober 22, 2009
MELUPAKAN BENCANA
SEPERTINYA baru kemarin tsunami yang menewaskan ratusan ribu orang terjadi di Aceh. Rasanya, baru gempa Jogja, Bengkulu masih terngiang-ngiang di telinga. Tanah basah, korban gempa di seputaran kaki Gunung Merapi belumlah kering. Baru beberapa pekan gempa besar melanda Sumbar terjadi, namun kita sudah mulai lupa bagaimana menghadapi bencana yang memilukan tersebut.
Ada sebuah cerita menarik yang dimuat salah satu media lokal di Padang. Kisah korban gempa yang rumahnya hancur. Gempa yang terjadi tahun 2007 lalu sempat menghancurkan sejumlah rumah di Kota Padang. Belum sempat rumahnya diperbaiki, rumah itu kini benar-benar hancur tak berbentuk ketika gempa datang lagi. Banyak cerita tragis seperti ini. Kenyataannya, banyak korban gempa tahun 2007 lalu yang tak kebagian bantuan.
Bagaimanakah nasib korban gempa tahun 2007 itu? Jangan ditanyakan. Mengeluh ke ujung langitpun, bantuan perbaikan rumah itu tak kunjung datang. Entah di mana dana bantuan itu. Apakah pernah ada atau di awang-awang. Kini, telah datang pula bencana yang lebih besar, siapa yang mau mengenang bencana 2007 silam itu?
Beberapa pekan jalan-jalan sudah ramai. Pasar-pasar sudah diserbu calon pembeli. Tempat-tempat wisata sudah ramai pula dengan pasangan muda-mudi yang berkasih sayang. Wakil rakyat sudah membuat ancang-ancang untuk pelesiran ke luar daerah. Di sepanjang rerentuhan bangunan, orang-orang berlalu-lalang, tanpa memandang heran dengan kehancuran yang disebabkan. Tak ada lagi duka, tak ada lagi tangis, setidaknya itu redup dalam hingar-bingar mereka yang tak tersentuh bencana itu sendiri.
Ada yang berbangga, ketika rakyat di negeri bencana ini begitu cepat bangkit. Mereka dipuji-puja sebagai rakyat yang kuat, rakyat yang pantang berkeluh-kesah. Begitulah adanya, tak ada yang perlu dikeluhkan dari bencana. Datang tak diduga, tak disangka. Tinggal berpandai-pandai menghadapinya saja.
Namun, bencana menjadi duka berkepanjangan bagi sebagian orang. Gempa telah menimbulkan traumatik yang sangat berat. Ada orang-orang yang tak ingin merasakan sedikit saja getaran. Berada di gedung bertingkat mereka panik. Yang lebih memilukan dari itu adalah, banyak orang-orang yang mengalami kesulitan hidup berkepanjangan akibat bencana yang datang tak berkesudahan.
Ada orang yang berkali-kali bencana, masih hidup dalam kepelikan hidup. Bantuan dan kedermawanan tak menyentuh mereka. Ketika bencana gempa besar melanda Sumbar beberapa pekan yang lalu, orang-orang seperti ini akan semakin banyak bermunculan. Hal itu karena, kita begitu gampang melupakan bencana.
Melihat puing-puing yang berserakan, melihat tenda-tenda pengungsian, melihat mereka yang hidup di rumah darurat yang ala kadarnya, kita mulai membiasakan diri menerimanya. Ketika kenyataan itu sudah dipandang biasa, kita menjadi mudah melupakan, bahwa ada duka-duka yang tak berkesudahan di balik puing-puing itu. Ketika kita merasa bangga melihat rakyat itu begitu kuat, kita menjadi lupa untuk berempati bagi mereka yang tak memiliki bathin setegar baja. Jangan pernah melupakan bencana di negeri ini. A.R. Rizal
Ada sebuah cerita menarik yang dimuat salah satu media lokal di Padang. Kisah korban gempa yang rumahnya hancur. Gempa yang terjadi tahun 2007 lalu sempat menghancurkan sejumlah rumah di Kota Padang. Belum sempat rumahnya diperbaiki, rumah itu kini benar-benar hancur tak berbentuk ketika gempa datang lagi. Banyak cerita tragis seperti ini. Kenyataannya, banyak korban gempa tahun 2007 lalu yang tak kebagian bantuan.
Bagaimanakah nasib korban gempa tahun 2007 itu? Jangan ditanyakan. Mengeluh ke ujung langitpun, bantuan perbaikan rumah itu tak kunjung datang. Entah di mana dana bantuan itu. Apakah pernah ada atau di awang-awang. Kini, telah datang pula bencana yang lebih besar, siapa yang mau mengenang bencana 2007 silam itu?
Beberapa pekan jalan-jalan sudah ramai. Pasar-pasar sudah diserbu calon pembeli. Tempat-tempat wisata sudah ramai pula dengan pasangan muda-mudi yang berkasih sayang. Wakil rakyat sudah membuat ancang-ancang untuk pelesiran ke luar daerah. Di sepanjang rerentuhan bangunan, orang-orang berlalu-lalang, tanpa memandang heran dengan kehancuran yang disebabkan. Tak ada lagi duka, tak ada lagi tangis, setidaknya itu redup dalam hingar-bingar mereka yang tak tersentuh bencana itu sendiri.
Ada yang berbangga, ketika rakyat di negeri bencana ini begitu cepat bangkit. Mereka dipuji-puja sebagai rakyat yang kuat, rakyat yang pantang berkeluh-kesah. Begitulah adanya, tak ada yang perlu dikeluhkan dari bencana. Datang tak diduga, tak disangka. Tinggal berpandai-pandai menghadapinya saja.
Namun, bencana menjadi duka berkepanjangan bagi sebagian orang. Gempa telah menimbulkan traumatik yang sangat berat. Ada orang-orang yang tak ingin merasakan sedikit saja getaran. Berada di gedung bertingkat mereka panik. Yang lebih memilukan dari itu adalah, banyak orang-orang yang mengalami kesulitan hidup berkepanjangan akibat bencana yang datang tak berkesudahan.
Ada orang yang berkali-kali bencana, masih hidup dalam kepelikan hidup. Bantuan dan kedermawanan tak menyentuh mereka. Ketika bencana gempa besar melanda Sumbar beberapa pekan yang lalu, orang-orang seperti ini akan semakin banyak bermunculan. Hal itu karena, kita begitu gampang melupakan bencana.
Melihat puing-puing yang berserakan, melihat tenda-tenda pengungsian, melihat mereka yang hidup di rumah darurat yang ala kadarnya, kita mulai membiasakan diri menerimanya. Ketika kenyataan itu sudah dipandang biasa, kita menjadi mudah melupakan, bahwa ada duka-duka yang tak berkesudahan di balik puing-puing itu. Ketika kita merasa bangga melihat rakyat itu begitu kuat, kita menjadi lupa untuk berempati bagi mereka yang tak memiliki bathin setegar baja. Jangan pernah melupakan bencana di negeri ini. A.R. Rizal
MENTALITAS KORBAN
SEORANG tetangga saya protes pembagian beras bantuan gempa tidak merata. Hanya warga miskin yang diberi bantuan, padahal beras itu untuk bantuan gempa dan lebih dari 50-an warga di RT saya adalah korban gempa. Si tetangga minta agar pembagian beras merata, berapapun besarannya. Namun, Pak RT tak kuasa menghadapi protes warganya, ia memilih lepas tangan dari urusan bagi-membagi itu.
Gubernur saya juga sempat naik darah. Ada keluarga korban gempa yang berbicara di media massa, dibilang gubernur tak memperhatikan rakyatnya. Yang membuat gubernur saya makin tak enak hati adalah disebut pula primodial, hanya memperhatikan etnis tertentu dalam penanganan bencana.
Jauh di pedalaman Malalak, Kabupaten Agam, seorang ibu jalan tertatih mendaki bukit sambil memikul sisa gabah di rumahnya yang rubuh. Sepekan bencana, tak ada bantuan menyentuhnya. Ia berbicara lirih, bak orang yang kehilangan harapan. " Beginilah perasaian kami..." ujarnya.
Di sebuah posko bencana yang dibuat pemerintah, seorang lelaki berseragam nampak bermalas-malas dengan urusannya. Bantuan menumpuk, ia tak peduli. Ia berbicara pelan, untuk apa sibuk-sibuk menyalurkan bantuan itu, ia juga merasa sebagai korban gempa. Kalau ia bekerja keras untuk korban bencana, toh itu tak berdampak apa-apa terhadap karirnya ataupun penghasilannya.
Ini belum klimaksnya. Kisah utamanya adalah beberapa jam setelah gempa besar melanda Sumbar. Ramai-ramai orang turun ke jalan. Alhasil, bahan bakar minyak dijual dengan kenaikan harga berlipat-lipat. Banyak yang terengah-engah dalam pelarian, kemudian ada segelintir orang yang menjual air mineral dengan harga melangit. Tiket pesawat terbang hingga taksi pun membengkak tidak ketulungan. Tak ada seorangpun yang siap menghadapi bencana besar itu.
Kita sudah dibiasakan dengan berbagai simulasi bencana. Dari gempa hingga tsunami. Anak-anak kita sedari dini sudah diajarkan di sekolahnya tentang P3K. Namun, ketika bencana itu benar-benar datang, tak satupun di antara kita yang benar-benar siap. Hal itu karena, kita tidak siap menjadi korban.
Berpuluh-puluh tahun yang lalu, sejak republik ini didirikan, kita tidak pernah diajarkan bagaimana menjadi korban. Kita dibuai dengan bahasa pembangunan. Kemudian kita harus menanggung utang yang menggunung untuk membiayai pembangunan itu. Sementara, hanya segelintir orang yang dikayakan dengan pembangunan tersebut. Kita tidak pernah diajarkan untuk dibantu, namun selalu membantu. Kita membantu konglomerat-konglomerat, menyelamatkan bank-bank mereka dengan ratusan triliun, sementara kemudian dana BLBI itu mereka bawa lari ke luar negeri. Dan kita tidak pernah belajar menjadi korban, ketika kasus Bank Century berulang kembali.
Karena kita tak terbiasa menjadi korban, karena kita selalu dikorbankan. Orang-orang yang dikorbankan itu adalah orang-orang yang dibiasakan dengan penderitaan, kesusahan, kemudian sesama orang yang dikorbankan kita saling menyalahkan, saling menyakiti, saling berprasangka buruk. Dan sebagai orang-orang yang dikorbankan, kita dijadikan tontonan . A.R. Rizal
Gubernur saya juga sempat naik darah. Ada keluarga korban gempa yang berbicara di media massa, dibilang gubernur tak memperhatikan rakyatnya. Yang membuat gubernur saya makin tak enak hati adalah disebut pula primodial, hanya memperhatikan etnis tertentu dalam penanganan bencana.
Jauh di pedalaman Malalak, Kabupaten Agam, seorang ibu jalan tertatih mendaki bukit sambil memikul sisa gabah di rumahnya yang rubuh. Sepekan bencana, tak ada bantuan menyentuhnya. Ia berbicara lirih, bak orang yang kehilangan harapan. " Beginilah perasaian kami..." ujarnya.
Di sebuah posko bencana yang dibuat pemerintah, seorang lelaki berseragam nampak bermalas-malas dengan urusannya. Bantuan menumpuk, ia tak peduli. Ia berbicara pelan, untuk apa sibuk-sibuk menyalurkan bantuan itu, ia juga merasa sebagai korban gempa. Kalau ia bekerja keras untuk korban bencana, toh itu tak berdampak apa-apa terhadap karirnya ataupun penghasilannya.
Ini belum klimaksnya. Kisah utamanya adalah beberapa jam setelah gempa besar melanda Sumbar. Ramai-ramai orang turun ke jalan. Alhasil, bahan bakar minyak dijual dengan kenaikan harga berlipat-lipat. Banyak yang terengah-engah dalam pelarian, kemudian ada segelintir orang yang menjual air mineral dengan harga melangit. Tiket pesawat terbang hingga taksi pun membengkak tidak ketulungan. Tak ada seorangpun yang siap menghadapi bencana besar itu.
Kita sudah dibiasakan dengan berbagai simulasi bencana. Dari gempa hingga tsunami. Anak-anak kita sedari dini sudah diajarkan di sekolahnya tentang P3K. Namun, ketika bencana itu benar-benar datang, tak satupun di antara kita yang benar-benar siap. Hal itu karena, kita tidak siap menjadi korban.
Berpuluh-puluh tahun yang lalu, sejak republik ini didirikan, kita tidak pernah diajarkan bagaimana menjadi korban. Kita dibuai dengan bahasa pembangunan. Kemudian kita harus menanggung utang yang menggunung untuk membiayai pembangunan itu. Sementara, hanya segelintir orang yang dikayakan dengan pembangunan tersebut. Kita tidak pernah diajarkan untuk dibantu, namun selalu membantu. Kita membantu konglomerat-konglomerat, menyelamatkan bank-bank mereka dengan ratusan triliun, sementara kemudian dana BLBI itu mereka bawa lari ke luar negeri. Dan kita tidak pernah belajar menjadi korban, ketika kasus Bank Century berulang kembali.
Karena kita tak terbiasa menjadi korban, karena kita selalu dikorbankan. Orang-orang yang dikorbankan itu adalah orang-orang yang dibiasakan dengan penderitaan, kesusahan, kemudian sesama orang yang dikorbankan kita saling menyalahkan, saling menyakiti, saling berprasangka buruk. Dan sebagai orang-orang yang dikorbankan, kita dijadikan tontonan . A.R. Rizal
TITIK BALIK
DALAM pemahaman dekontruksi, sebuah kehancuran itu menjadi sebuah keniscayaan untuk sebuah tatanan yang lebih baik. Sebuah titik nadir itu bahkan harus diciptakan agar bisa ditemukan sebuah momentum untuk memulai sesuatu yang lebih baik. Namun, banyak momentum itu diciptakan oleh tangan Tuhan.
Orang-orang akan selalu bertanya tentang sebab akibat. Kalau tidak ada mahasiswa yang gugur dalam demontrasi 1998, mungkin tidak akan ada reformasi. Kalau tidak ada perang sipil, mungkin tidak akan ada sebuah negara adidaya bernama Amerika. Kalau tidak ada rencana pembunuhan oleh kafir Quraisy, mungkin tak ada hijrah. Kalau tak ada tsunami di Aceh, mungkin tak ada perdamaian di negeri Serambi Mekah itu.
Begitulah sebuah sejarah besar diciptakan. Sejarah besar itu tidak diciptakan oleh sesuatu yang kecil. Karena itulah hadirnya sebuah momentum. Momentum yang kadang meminta pengorbanan yang lebih besar.
Beberapa tahun belakakangan, terutama pasca tsunami Aceh, Sumatra Barat tak pernah lepas dari gempa. Ada gempa tahun 2004, gempa tahun 2007 belum hilang dari ingatan. Tiap bulan, pekan hingga hari, Ranah Minang selalu digoncang gempa. Dan pada Rabu, 30 September lalu, gempa besar yang sangat mematikan terjadi. Apakah ini hanya sebuah siklus panjang dari estalase ranah ini yang penuh bencana, atau ini sebuah titik balik.
Ada beberapa cara pandang dalam memandang bencana. Pertama, ia sebagai musibah. Ia tidak memiliki sebab akibat, ia datang sebagai ujian. Kedua, ia sebagai peringatan. Ia datang dari sebab akibat, ia datang untuk mengingatkan. Ketiga, ia sebagai laknat. Ia datang sebagai karma, hukuman dari perbuatan yang tak termaafkan.
Dalam terminologi agama, banyak risalah yang menceritakan tentang laknat bagi umat manusia yang menebar kemungkaran di permukaan bumi. Mereka yang ditenggelamkan oleh banjir, dikubur oleh gempa, hingga dimusnahkan dengan penyakit mematikan. Sebagai peringatan, bencana itu menyapa sepanjang peradaban manusia. Hutan yang dizalimi, maka ia memberi peringatan dengan banjir, longsor, hingga bencana kekeringan. Sebagai musibah, bencana datang tak diundang, pergi tak diantar. Dan bencana di ranah ini harus dipandang dari paradigma apa?
Kenyataannya, ranah ini tidak dimusnahkan. Memang ada korban nyawa, harta benda dan kehancuran. Namun, masih ada harapan, masih ada semangat, masih ada solidaritas. Bisa jadi, Tuhan masih sayang atau sekadar menguji hamba-Nya di ranah ini.
Banyak tanda tanya ketika bencana gempa itu terjadi. Mengapa tidak hanya bangunan-bangunan besar saja yang hancur, mengapa pula rumah orang-orang miskin itu. Mengapa pula anak-anak yang menuntut ilmu itu yang menjadi korban, mengapa tak yang lain? Mengapa rumah tetangga si fulan yang hancur, mengapa tidak tetangganya yang lain? Dan pertanyaan-pertanyaan itu tak berujung jawabannya. Kalau bencana ini sebuah musibah, ujian, maka Tuhan memberikan jalan untuk sebuah titik balik. Dan titik balik itu bisa mengubah bencana ini menjadi azab. Jalan untuk meniti titik balik itu hanyalah bangkit, dan orang-orang besar belajar dari sejarah terburuk yang pernah dilaluinya. A.R.Rizal
Orang-orang akan selalu bertanya tentang sebab akibat. Kalau tidak ada mahasiswa yang gugur dalam demontrasi 1998, mungkin tidak akan ada reformasi. Kalau tidak ada perang sipil, mungkin tidak akan ada sebuah negara adidaya bernama Amerika. Kalau tidak ada rencana pembunuhan oleh kafir Quraisy, mungkin tak ada hijrah. Kalau tak ada tsunami di Aceh, mungkin tak ada perdamaian di negeri Serambi Mekah itu.
Begitulah sebuah sejarah besar diciptakan. Sejarah besar itu tidak diciptakan oleh sesuatu yang kecil. Karena itulah hadirnya sebuah momentum. Momentum yang kadang meminta pengorbanan yang lebih besar.
Beberapa tahun belakakangan, terutama pasca tsunami Aceh, Sumatra Barat tak pernah lepas dari gempa. Ada gempa tahun 2004, gempa tahun 2007 belum hilang dari ingatan. Tiap bulan, pekan hingga hari, Ranah Minang selalu digoncang gempa. Dan pada Rabu, 30 September lalu, gempa besar yang sangat mematikan terjadi. Apakah ini hanya sebuah siklus panjang dari estalase ranah ini yang penuh bencana, atau ini sebuah titik balik.
Ada beberapa cara pandang dalam memandang bencana. Pertama, ia sebagai musibah. Ia tidak memiliki sebab akibat, ia datang sebagai ujian. Kedua, ia sebagai peringatan. Ia datang dari sebab akibat, ia datang untuk mengingatkan. Ketiga, ia sebagai laknat. Ia datang sebagai karma, hukuman dari perbuatan yang tak termaafkan.
Dalam terminologi agama, banyak risalah yang menceritakan tentang laknat bagi umat manusia yang menebar kemungkaran di permukaan bumi. Mereka yang ditenggelamkan oleh banjir, dikubur oleh gempa, hingga dimusnahkan dengan penyakit mematikan. Sebagai peringatan, bencana itu menyapa sepanjang peradaban manusia. Hutan yang dizalimi, maka ia memberi peringatan dengan banjir, longsor, hingga bencana kekeringan. Sebagai musibah, bencana datang tak diundang, pergi tak diantar. Dan bencana di ranah ini harus dipandang dari paradigma apa?
Kenyataannya, ranah ini tidak dimusnahkan. Memang ada korban nyawa, harta benda dan kehancuran. Namun, masih ada harapan, masih ada semangat, masih ada solidaritas. Bisa jadi, Tuhan masih sayang atau sekadar menguji hamba-Nya di ranah ini.
Banyak tanda tanya ketika bencana gempa itu terjadi. Mengapa tidak hanya bangunan-bangunan besar saja yang hancur, mengapa pula rumah orang-orang miskin itu. Mengapa pula anak-anak yang menuntut ilmu itu yang menjadi korban, mengapa tak yang lain? Mengapa rumah tetangga si fulan yang hancur, mengapa tidak tetangganya yang lain? Dan pertanyaan-pertanyaan itu tak berujung jawabannya. Kalau bencana ini sebuah musibah, ujian, maka Tuhan memberikan jalan untuk sebuah titik balik. Dan titik balik itu bisa mengubah bencana ini menjadi azab. Jalan untuk meniti titik balik itu hanyalah bangkit, dan orang-orang besar belajar dari sejarah terburuk yang pernah dilaluinya. A.R.Rizal
Kamis, Oktober 08, 2009
Mereka Rela Bertaruh Nyawa
Tim Relawan di Titik Gempa
AMBACANG GADANG-Entah dari mana, mereka datang tiba-tiba. Mereka seperti malaikat penolong. Jauh di dusun-dusun terisolasi akibat gempa di ujung Kabupaten Padang Pariaman dan Agam, tim relawan menjadi obat penawar duka, mereka yang tertimpa bencana.
Siang itu, usai memberikan pengobatan bagi warga korban gemba di Koto Tinggi, seorang anggota tim relewan medis dari Francis berbicara kepada warga yang mengerumuninya. " Coconut, coconut...!" ujarnya singkat.
Tidak ada yang mengerti ucapan lelaki bule itu. Tak ada warga kampung terpelosok itu paham dengan bahasa Inggris. Demikianpun, lelaki bule itu tak banyak paham dengan bahasa Indonesia. Lelaki itu berjalan beberapa meter ke pinggir jalan. Ia menunjukkan pohon kelapa yang masih kecil. Beberapa warga menyela. " O, inyo taragak karambia mudo mah," ujar sebuah suara. Selaan itu langsung disambut dengan gelak tawa gemuruh korban gempa yang berkumpul di posko kesehatan.
Usai mengungkapkan maksudnya, lelaki anggota tim relawan Francis itu berkumpul dengan teman-temannya yang berjumlah sebelas orang. Mereka membagikan piring. Sambil berdiri, mereka menyantap makanan untuk siang itu, mie rebus. Selesai itu, di antara mereka menuju longsoran di Ambacang Gadang yang masih mengubur puluhan nyawa di sana.
Kehadiran tim relawan bagi warga korban gempa di Koto Tinggi menjadi penghibur duka tersendiri. Setiap gerak-gerik mereka menjadi tontonan. Dengan kemampuan mengenal beberapa ungkapan bahasa asing, mereka mencoba berkomunikasi.
Ada sejumlah tim relawan lebih awal memasuki dusun-dusun yang terisolasi di Koto Tinggi dan dusun lainnya di Nagari Padang Alai Kabupaten Padang Pariaman hingga jauh ke perbatasan di Malalak Kabupaten Agam. Di Dusun Ambacang misalnya, di sini tim relawan dari Basarnas Kalimantan Timur sudah lebih awal melakukan evakuasi jenazah. Di titik longsoran di dusun ini, tim harus bertaruh nyawa.
Bayangkan, dusun Ambacang Gadang itu tenggelam ditimbun tanah beribu-ribo ton. Longsoran tanah itu jatuh ke dalam tebing ratusan meter dan memanjang kiloan meter. Di atas tebing dengan longsoran tanah yang labil itu tim relawan turun mengevakuasi jenazah korban menggunakan tali tambang. " Mana keluarganya, mana keluarganya, di letakkan di sini saja," ujar seorang anggota tim relawan ketika sesosok jenazah berhasil dievakuasi.
Seorang perempuan paruh baya dengan mata berkaca-kaca mendekat ke jenazah yang digotong empat orang anggota tim relawan. " Pak buliah diliek wajahnyo," ujar perempuan itu.
Seorang anggota tim relawan membuka kantong mayat. " Jangan dipegang, Buk. Dilihat saja," ujarnya.
Bekerja dengan peralatan ala kadarnya. Sepekan pasca gempa, tim relawan di Ambacang Gadang itu bahkan tidak mengenakan masker ketika mengevakuasi jenazah. Di antaranya hanya menggunakan sapu tangan dan kacu untuk menutupi hidung dari bau mayat yang tidak sedap.
Kondisi relawan yang tidak jauh berbeda terlihat pada evakuasi jenazah korban gempa di Bukit Balantik, Jorong Patamuan, Padang Pariaman. Di sini, tim relawan berasal dari Brimob Polda Sumatra Selatan. Di antara mereka sengaja tak mengenakan masker. Alasannya. " Masih bau busuk, berarti masih ada jenazah," ujarnya.
Itulah cara tim relawan menemukan titik-titik yang memungkinkan ditemukannya korban yang tertimbun. Alasan masih ada bau menyengat itulah yang menjadi alasan tim untuk meneruskan evakuasi.
Selain harus memiliki kemampuan teknis untuk menanggulango korban bencana, tim relawan di beberapa titik longsoran harus memiliki kemampuan lain. Di titik longsor di Damar Bancah, Malalak, Kabupaten Agam, tim relawan dari TNI, SAR dan mahasiswa sekaligus berperan ganda sebagai orang alim. Seperti saat tim menguburkan jenazah Mardison, korban longsor yang baru ditemukan. Ketika itu tak satupun anggota keluarga dekatnya yang sanggup lagi menemani pemakaman darurat tersebut. Maka, jadilah tim relawan mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi di luar Sumbar tampil membacakan doa.
"Tarimo kasih, Pak, Diak..." ujar Bustamar, kerabat jauh korban Mardison.
Menurut Bustamar, sejumlah kerabat jauhnya menjadi korban yang tertimbun longsor di Damar Bancah. Tak ada lagi anggota keluarga korban yang bertahan di lokasi evakuasi. Mereka larut dengan kepanikan dan kesedihan. Karenanya untuk menyelenggarakan jenazah, sepenuhnya dilakukan oleh tim relawan. "Awak serahkan sadonyo ke relawan, awak ndak bisa apo-apo lai," lirih Bustamar.
Usai mengubur jenazah Mardison, tim relawan berpencar. Tim relawan mahasiswa beranjak ke posko utama yang berjarak 2 km dengan berjalan kaki mendaki bukit. Tim lain dari TNI kembali ke lokasi evakuasi melanjutkan evakuasi menggunakan sebuah escavator. Mereka dengan awas menatap setiap hentakan escavator untuk sesekali menemukan sesosok jenazah. Di antara raungan alat berat itu, sejumlah tim relawan beristirahat di puing-puing rumah yang hancur. Di antaranya tertidur lelap di beranda rumah yang kotor ditimbun reruntuhan tanah. Ia masih dengan seragan yang lengkap. A.R. Rizal
AMBACANG GADANG-Entah dari mana, mereka datang tiba-tiba. Mereka seperti malaikat penolong. Jauh di dusun-dusun terisolasi akibat gempa di ujung Kabupaten Padang Pariaman dan Agam, tim relawan menjadi obat penawar duka, mereka yang tertimpa bencana.
Siang itu, usai memberikan pengobatan bagi warga korban gemba di Koto Tinggi, seorang anggota tim relewan medis dari Francis berbicara kepada warga yang mengerumuninya. " Coconut, coconut...!" ujarnya singkat.
Tidak ada yang mengerti ucapan lelaki bule itu. Tak ada warga kampung terpelosok itu paham dengan bahasa Inggris. Demikianpun, lelaki bule itu tak banyak paham dengan bahasa Indonesia. Lelaki itu berjalan beberapa meter ke pinggir jalan. Ia menunjukkan pohon kelapa yang masih kecil. Beberapa warga menyela. " O, inyo taragak karambia mudo mah," ujar sebuah suara. Selaan itu langsung disambut dengan gelak tawa gemuruh korban gempa yang berkumpul di posko kesehatan.
Usai mengungkapkan maksudnya, lelaki anggota tim relawan Francis itu berkumpul dengan teman-temannya yang berjumlah sebelas orang. Mereka membagikan piring. Sambil berdiri, mereka menyantap makanan untuk siang itu, mie rebus. Selesai itu, di antara mereka menuju longsoran di Ambacang Gadang yang masih mengubur puluhan nyawa di sana.
Kehadiran tim relawan bagi warga korban gempa di Koto Tinggi menjadi penghibur duka tersendiri. Setiap gerak-gerik mereka menjadi tontonan. Dengan kemampuan mengenal beberapa ungkapan bahasa asing, mereka mencoba berkomunikasi.
Ada sejumlah tim relawan lebih awal memasuki dusun-dusun yang terisolasi di Koto Tinggi dan dusun lainnya di Nagari Padang Alai Kabupaten Padang Pariaman hingga jauh ke perbatasan di Malalak Kabupaten Agam. Di Dusun Ambacang misalnya, di sini tim relawan dari Basarnas Kalimantan Timur sudah lebih awal melakukan evakuasi jenazah. Di titik longsoran di dusun ini, tim harus bertaruh nyawa.
Bayangkan, dusun Ambacang Gadang itu tenggelam ditimbun tanah beribu-ribo ton. Longsoran tanah itu jatuh ke dalam tebing ratusan meter dan memanjang kiloan meter. Di atas tebing dengan longsoran tanah yang labil itu tim relawan turun mengevakuasi jenazah korban menggunakan tali tambang. " Mana keluarganya, mana keluarganya, di letakkan di sini saja," ujar seorang anggota tim relawan ketika sesosok jenazah berhasil dievakuasi.
Seorang perempuan paruh baya dengan mata berkaca-kaca mendekat ke jenazah yang digotong empat orang anggota tim relawan. " Pak buliah diliek wajahnyo," ujar perempuan itu.
Seorang anggota tim relawan membuka kantong mayat. " Jangan dipegang, Buk. Dilihat saja," ujarnya.
Bekerja dengan peralatan ala kadarnya. Sepekan pasca gempa, tim relawan di Ambacang Gadang itu bahkan tidak mengenakan masker ketika mengevakuasi jenazah. Di antaranya hanya menggunakan sapu tangan dan kacu untuk menutupi hidung dari bau mayat yang tidak sedap.
Kondisi relawan yang tidak jauh berbeda terlihat pada evakuasi jenazah korban gempa di Bukit Balantik, Jorong Patamuan, Padang Pariaman. Di sini, tim relawan berasal dari Brimob Polda Sumatra Selatan. Di antara mereka sengaja tak mengenakan masker. Alasannya. " Masih bau busuk, berarti masih ada jenazah," ujarnya.
Itulah cara tim relawan menemukan titik-titik yang memungkinkan ditemukannya korban yang tertimbun. Alasan masih ada bau menyengat itulah yang menjadi alasan tim untuk meneruskan evakuasi.
Selain harus memiliki kemampuan teknis untuk menanggulango korban bencana, tim relawan di beberapa titik longsoran harus memiliki kemampuan lain. Di titik longsor di Damar Bancah, Malalak, Kabupaten Agam, tim relawan dari TNI, SAR dan mahasiswa sekaligus berperan ganda sebagai orang alim. Seperti saat tim menguburkan jenazah Mardison, korban longsor yang baru ditemukan. Ketika itu tak satupun anggota keluarga dekatnya yang sanggup lagi menemani pemakaman darurat tersebut. Maka, jadilah tim relawan mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi di luar Sumbar tampil membacakan doa.
"Tarimo kasih, Pak, Diak..." ujar Bustamar, kerabat jauh korban Mardison.
Menurut Bustamar, sejumlah kerabat jauhnya menjadi korban yang tertimbun longsor di Damar Bancah. Tak ada lagi anggota keluarga korban yang bertahan di lokasi evakuasi. Mereka larut dengan kepanikan dan kesedihan. Karenanya untuk menyelenggarakan jenazah, sepenuhnya dilakukan oleh tim relawan. "Awak serahkan sadonyo ke relawan, awak ndak bisa apo-apo lai," lirih Bustamar.
Usai mengubur jenazah Mardison, tim relawan berpencar. Tim relawan mahasiswa beranjak ke posko utama yang berjarak 2 km dengan berjalan kaki mendaki bukit. Tim lain dari TNI kembali ke lokasi evakuasi melanjutkan evakuasi menggunakan sebuah escavator. Mereka dengan awas menatap setiap hentakan escavator untuk sesekali menemukan sesosok jenazah. Di antara raungan alat berat itu, sejumlah tim relawan beristirahat di puing-puing rumah yang hancur. Di antaranya tertidur lelap di beranda rumah yang kotor ditimbun reruntuhan tanah. Ia masih dengan seragan yang lengkap. A.R. Rizal
Langgan:
Entri (Atom)